02_Elements/Icons/ArrowLeft Kembali ke Wawasan

Wawasan > Media

Saatnya Merek Memikirkan Kembali Strategi Omnichannel Mereka

3 minute read | April 2021

Tidak dapat dipungkiri dampak pandemi terhadap adopsi e-commerce, tetapi setelah hidup dengan COVID-19 selama lebih dari satu tahun, sangat penting bagi merek untuk memahami bahwa tidak semua belanja online berakhir dengan pembelian elektronik. Dan itulah mengapa strategi omnichannel tidak bisa hanya berfokus pada titik pembelian.

According to research from NielsenIQ, COVID-19 fueled a 50% increase in U.S. omnichannel shopping last year, but less than half of the activity led to online purchases. Said differently, many omnichannel shoppers use digital channels for information rather than simply an electronic means to an end. That means that omnichannel marketing strategies that fixate on e-commerce buying exclude a significant portion of consumers—those whose shopping touchpoints include, but don’t end in, a digital one.

The needed adjustment is nuanced, but critical: Create seamless experiences from touchpoint to touchpoint instead of between on- and offline purchasing experiences. Omnichannel business and marketing strategies have grown increasingly important in recent years, but data collected for this year’s Laporan Pemasaran Tahunan Nielsen suggests that marketers need to focus more on creating holistic experiences for consumers.

Menurut laporan tersebut, merek-merek dari semua ukuran menempatkan akuisisi pelanggan sebagai tujuan pemasaran utama mereka untuk tahun ini. Meskipun hal ini sudah dapat diduga mengingat perlunya memikirkan pertumbuhan penjualan setelah tahun 2020 berlalu, responden survei berencana untuk meningkatkan pemasaran mereka di beberapa saluran tertentu, bukan secara komprehensif.

Dalam lanskap media yang diperkuat secara digital saat ini, sangat masuk akal untuk meningkatkan pengeluaran di saluran seperti media sosial dan penelusuran. Namun, merek tidak dapat mengabaikan langkah dalam perjalanan konsumen yang mengikuti titik-titik kontak spesifik tersebut. Mereka juga perlu berinvestasi pada langkah-langkah lain jika ingin menjadi pemasar omnichannel yang sukses. Dan hal tersebut, bagi banyak pemasar, menghadirkan tantangan yang berbeda: pengukuran. 

Given the pull back in advertising last year, the pressure to prove return on investment (ROI) couldn’t be higher for marketers. That means measuring across all the channels brands allocate funding to, no matter how small the allocation. This is where we see a correlation between spending allocation and confidence in measurement: Brands plan to increase spend where they are most confident in their measurement ability. The caveat here is that confidence in measurement across channels is notably lacking.

Para pemasar yang kami survei sangat menghargai media yang dimiliki dan diperoleh, dan mereka memiliki minat yang tinggi untuk memahami jangkauan lintas platform. Pengeluaran di saluran digital pasti akan meningkat di masa mendatang, terutama di masa pandemi, tetapi media yang dimiliki (situs web, email) juga perlu menjadi pertimbangan mendasar. Dengan berkurangnya interaksi fisik antara merek dan konsumen, kehadiran digital setiap merek perlu bekerja lebih keras.

Jika pemasar benar-benar ingin meningkatkan akuisisi pelanggan, mereka perlu memastikan bahwa setiap saluran komunikasi memiliki tujuan dalam perjalanannya. Untuk melakukan hal ini secara efektif, mereka membutuhkan data yang tepat untuk mempersonalisasi taktik dan kemampuan untuk mengukur dampak dari upaya mereka agar dapat bertindak dengan cepat. Dan itu berarti pemasar perlu berinvestasi pada teknologi yang tepat sambil mempertimbangkan privasi dan identitas saat mereka mengulangi strategi mereka.

For additional insights, download the 2021 Nielsen Marketing Report: Era of Adaptation.

Lanjutkan menjelajahi wawasan serupa

Produk kami dapat membantu Anda dan bisnis Anda